8.06.2016

Posting Kedua di Tahun 2016

Kali ini saya sudah murni jadi anak rantau. Sesuai apa yang saya inginkan, saya kini ada di Jakarta. Masih jauh dari mimpi-mimpi saya di siang bolong waktu saya masih di bangku sekolah berseragam kucel putih-hijau, putih-biru, ataupun putih-abu abu, tapi saya benar-benar menapaki jalan yang saya inginkan.

Mengisi hari-hari dengan berangkat kerja dan meninggalkan jejak dalam usia saya. Naik busway dan berjalan menyusuri lorong-lorong halte yang panjang dan naik turun, lumayan, akhirnya bisa terpaksa olahraga. Atau kadang naik kereta, berlarian di stasiun mengejar kereta dan mengumpat ketika kereta menumpuk di Manggarai dan antre menunggu jalur. Melewati banyak hari dengan usaha yang dilakukan oleh tangan, kaki dan kepala saya sendiri. Saya mulai mendefinisikan bahwa bahagia adalah mensyukuri apapun yang dimiliki. Bukankkah kita harus bahagia? Well, saya juga gak tahu ini arah tujuan posting kali ini akan kemana, mari dilanjutkan saja.

Dalam benak saya suatu hari ketika berjalan di lorong halte di Kuningan, waktu itu jam 9 malam, perjalanan pulang, saya mulai banyak menanyakan kemana masa depan ini harus diarahkan dan dijalankan. Kalau harus pulang semalam ini, nanti, ketika sudah punya suami dan anak, apakah saya masih bisa? Apakah saya ikhlas kehilangan banyak waktu bersama keluarga? Lalu bagaimana saya akan berusaha lagi setelah ini? Di sebelah manakah seharusnya jalan terbaik dimana saya dapat memberi dan berarti bagi orang lain? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mulai menyudutkan saya selain angin malam dan lampu lampu jalan dan gedung-gedung bertebaran waktu itu.

Hingga akhirnya saya menemukan hanya satu jawaban dari banyak pertanyaan yang bermunculan. PR dulu lah, semoga yang lainnya segera ketemu jawabannya. Satu jawaban yang mulai saya simpulkan adalah, saya harus melakukan semua hal yang saya inginkan dalam satu dua tahun ini. Saya harus lebih berlari dan lebih kencang lagi. Berjuang lebih gigih, dan berhenti berkeluh kesah. Berangkat lebih pagi lagi untuk menyusuri jalan-jalan yang baru. Saya tahu saya bisa, saya tahu saya mampu. Saya tahu saya juga bisa baik seperti teman-teman saya. Saya juga bisa berusaha jadi jauh lebih baik. Dan, saya tahu bahwa saat ini akan jadi sia-sia dan penyesalan di kemudian hari jika saya terus berdiam diri dan bersedih. Lebih kencang lagi berlarinya, dan mulai meraih mimpi-mimpi. Nanti ketika sudah tiba saatnya saya sampai, akan saya petik buah buah di kebun saya. Mari bergerak. Saya, bisa, kan? :-)

3.31.2016

Kenyataannya

Siang hari di kota Jakarta tidak jauh berbeda dengan malam hari atau waktu subuhnya, sama sama gerah, sama sama sibuk di setiap sudut. Kenyataannya saya sudah berjalan cukup jauh dari kota Malang. Cukup jauh dari udara dingin. Cukup jauh dari ketenangan--atau lebih tepat disebut kesunyian-- jalanan ketika menjelang malam. Cukup jauh dari masakan ibu. Juga, kenyataannya memang sudah semakin jauh dari kehidupan sebelumnya.

Setiap malam datang kadang rasanya ada engap di dalam hati. Ada yang hinggap kemudian menyesap sebagian kebahagiaan yang sudah saya alami sepanjang hari. Ada rasa rindu dan ketidakrelaan atas apapun yang seakan belum selesai. Ada kekecewaan atas kata-kata yang sudah berulang kali terucap dan memang sudah selayaknya kata maafnya itu terucap. Ada yang masih dicari-cari atau ditunggu-tunggu.

Kenyataannya yang ada di depanmu adalah ketidakhadiran ruang hangat yang selama ini kamu harapkan. Kenyataannya adalah tidak ada yang sedang berjuang dan memberimu waktu dan masa. Memang ia tidak pernah memperjuangkan. Meskipun ia bersedih, ia tidak memperjuangkanmu. Ia tidak memperjuangkanmu. Ia hanya mengucapkan kata maaf berulang kali. Ia hanya menyesali. Ia sudah siap akan kehilanganmu. Sudah siap akan ketiadaanmu dalam masa depannya. Kenyataan....