Tiga Band Favorit

Entri kali ini akan mencurhatkan tentang tiga band favorit saya hingga sampai di usia twenty-something ini. Dari sekian banyak aliran musik, jajaran pemusik, saya ternyata bisa juga menemukan apa yang saya sukai. Padahal selama ini saya sudah berkeyakinan bahwa tidak pernah benar-benar mengidolakan sesuatu. Namun ternyata saya menemukan mereka, kesukaan saya.

Berikut ini adalah tiga band dari Indonesia. Dari ketiganya adalah bentuk band semua, bagi saya, menyukai band tersebut adalah secara keseluruhan. Warna musiknya pasti beda kalau yang memainkan gitarnya saja berbeda, yang meniup flutenya berbeda, suara vokalisnya berbeda. Ya, jadi band terasa sangat utuh dan beinisial.

Pertama, band Sheila On 7. Band sepanjang masa, bagi saya. Lagunya gak mati mulai sejak saya masih kecil hingga sekarang. Gayanya yang terkesan spontan bisa terlihat dari liriknya, sederhana, tapi apa adanya dan saya suka. Suara Vokalis Duta yang ya seperti itu, terus musiknya mulai dari drum, bass, sama guitar yang masing-masing dibawakan Brian, Adam dan Eros, ya, sebenernya gak ngerti musik sih, tapi jika sebuah lagu itu adalah sayur, keseluruhan sebuah lagu yang dibangun oleh keempat pion itu adalah racikan bumbu, air, dan bahan yang pas. Ya, begitulah, intinya SO7 adalah band favorit saya yang pertama.


Kedua, Mocca! Tahu kan, band indie asli Bandung dengan vokalis Teh Arina. Teteh Bandung yang suaranya kalem banget. 2014 kemarin sempat nonton live Mocca di acara kampus dan tambah seneng. Secara keseluruhan band ini beraliran jazz-swing. Ah ya seperti itu pokoknya. Lirik lagunya favorit, rata-rata dibawakan denan bahasa inggris yang casual dan asyik. Biarpun band indie tapi Mocca sudah sering show di luar negeri. Satu lagi yang secara subyektif dari diri saya sendiri, seneng banget karena ternyata Arina Mocca itu saudaranya Dewi Lestari (penulis Supernova). Dua idola sekaligus! Aliran musik Moca bagi saya sendiri termasuk unik, warna lagu pop dengan sentuhan-sentuhan swing jazz, twee pop, dan suasana ala ala 60-an. Asyik lah pokoknya. Penasaran? Segera dengarkan lagu-lagu mereka. Mocca terdiri dari Arina di vokal dan flute, Riko (gitar), Achmad Pratama (bass), dan Indra (drum).


Ketiga adalah Payung Teduh. Yap, band indie lagi, apa emang lagi usianya suka band indie ya? hehe. Kalau Payung Teduh ini beda lagi warna musiknya dari kedua diatas (Kesimpulannya semuanya berbeda warna musiknya sih). Tapi agak mnge-jazz sih. Jadi Payung Tedung ini membawakan musik dengan ramuan antara keroncong dengan jazz. Asyik pokoknya. Lirik yang dibawakan? Kalau bagi saya sendiri kadang liriknya seperti syair, seperti puisi, seperti lagu. Warna musiknya kayak jadulnya kerasa banget.


Ya jadi itu tadi ketiga band kesukaan saya. Semoga dapat menginspirasi. 

Kepada: Langit

Aku menemukan sebuah quote hari ini. Dan sejujurnya aku sudah tidak tahan ingin sekali bercerita kepadamu mengenai hari-hariku, kegiatanku, cuaca dan matahari disini, dan isi hatiku.

Begini quote yang kudapatkan, “Hujan deras akan membuat tanah menjadi semakin kokoh, bukan sebaliknya”. Bagus ya?

Sejak kemarin malam hujan turun dengan sangat deras. Aku membayangkan langit sedang murka atau mungkin kecewa. Sejenak butirannya seperti berusaha menghiburku, menemaniku perjalanan dengan derai butirnya. Aku menyambutnya, seolah mengerti bahwa mereka datang untuk menghiburku, dan sebenarnya mereka hanya butir yang kecil sekali menyerupai debu. Kata adik, ia seperti salju, seakan dia tahu bentuk dari salju. :D tapi tentu saja bajuku basah.

Karenanya aku jadi bersemangat dan melaju dengan cepat. Aku dibuatnya merasa baik dan ceria. Oh, sebelumnya tentu saja aku sedang baik juga. Tapi hujan menemaniku dan menambah kebaikannya.

Namun, seperti yang kukatakan sebelumnya, kemudian semalaman hingga pagi menjelang hujan terus datang seperti murka atau mungkin kecewa. Lalu aku meyakini sekali lagi bahwa ia datang untuk benar-benar menghiburku.

Mengingat hal itu aku jadi seperti menyesal. Mendengar suara hujan aku jadi ingin mengiba pada langit, meminta agar ia berhenti dan memaafkan meskipun sudah membuatnya kecewa. Dengan mata terpejam,  kuberanikan diri terus berusaha agar terhubung dengan langit. Kuminta ia memaafkan, mengampuni, dan memohon belas kasihannya.

Pada akhirnya matahari yang sudah datang dari awal berhasil membujuk langit dan mengeringkan butir-butir air terakhir di pagi itu.

Hujannya reda.

Kuberanikan diriku untuk tersenyum dan merelakan sekali lagi.

Terimakasih karena sudah menerima ibaku, memaafkannya juga, kataku dalam hati. Kemudian quote yang sebelumnya tadi kuceritakan seperti menjadi pelita, ternyata hujan deras yang datang akan membuat tanah menjadi semakin kokoh, bukan sebaliknya. Semoga mereka yang kokoh menjaga kenyamanan perjalanan panjang.

Sekali lagi, terimakasih kepada langit yang sudah memaafkannya juga. :)

(Kepada Langit)
29 Desember 2014